Khalid Al-Miski adalah seorang pemuda yang tampan, rajin beribadah, wara', ikhlas, rajin bekerja, dan amanah. Dia seorang pedagang keliling kampung yang membawa barang dagangannya di atas kepala. 

Salah seorang wanita cantik tertarik pada Khalid Al-Miski yang tampan. Suatu hari, wanita ini memanggil Khalid dengan maksud akan membeli barang dagangannya. Ia telah merancang tipu-dayanya, lalu Khalid diminta agar masuk ke dalam rumahnya dengan alasan ia akan membeli dagangannya. Ternyata ia segera mengunci pintu-pintu rumahnya, kemudian berkata, "Kamu akan celaka, jika tidak mau melayani aku! Sebab aku akan memper malukanmu di depan umum sehingga mereka menuduhmu ingin memperkosaku." 

Khalid berusaha mengalihkan pembicaraan, tetapi tanpa membuahkan hasil. Lalu Khalid memperingatkannya dengan janji dan ancaman Allah. Akan tetapi, setan telah menguasai wanita cantik tersebut dan membutakan mata hatinya. 
Ketika Khalid yakin bahwasanya ia tidak bisa menye lamatkan diri dari ancaman wanita tersebut, maka ia tampakkan dirinya menyetujui permintaannya dan meminta izin untuk ber benah diri di kamar mandi. Wanita itu bahagia dan setuju. Khalid masuk ke kamar mandi dan berpikir bagaimana caranya agar dapat terhindar dari godaan ini. 

Allah memberi petunjuk, sekalipun nanti tubuhnya akan kotor. Tidak masalah, asalkan ia dapat menghindarkan diri dari maksiat yang pasti mendatangkan murka Allah. Kemudian, Khalid melumuri wajah dan tubuhnya dengan tinja, dengan demikian tercium bau tidak enak, kelihatan jelek, dan menjijikkan. 

Khalid keluar dari kamar mandi, begitu wanita tersebut melihat Khalid kotor dan menjijikkan, ia menghardik dan me nyuruhnya keluar serta mengusir dari rumahnya. Pemuda tersebut lari dan meninggalkan rumah wanita untuk menyelamatkan diri dan agamanya. 

Allah Ta'ala mengganti bau busuk dan menjijikkan itu dengan bau yang harum bagaikan minyak miski. Orang-orang pun dari kejauhan sudah mengetahui kedatangannya, sebelum mereka melihat Khalid, yaitu dengan mencium baunya yang harum. Sejak saat itu orang-orang memanggilnya dengan Khalid Al- Miski. 


 



Inilah seorang Mukmin yang sebenarnya, yang meyakini bahwa Allah senantiasa mengawasi gerak-geriknya setiap saat sehingga sekalipun di hadapannya seorang wanita yang cantik dan gemulai, namun ia merasa takut kepada Allah. Tidak takut kepada manusia atau undang-undang karena semuanya tidak dapat melihat dan mengawasinya sepanjang waktu. Hanya Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihatlah yang senantiasa memantau gerakannya. Khalid takut dengan bahaya yang ditim bulkan oleh maksiat, maka ia mencari alasan dengan melumuri kotoran pada tubuhnya, dan justru ini menunjukkan kebersihan batinnya dan ketulusan imannya. Kemudian, Allah mengganti nya dengan bau harum semerbak di dunia dan baginya di akhirat pahala yang besar dan berlimpah. 

Sekarang ini, di zaman kita hidup, berapa banyak manusia melumuri wajah dan tubuhnya dengan parfum dan wangi -wangian. Akan tetapi, bau busuk perbuatan mereka menjadikan mereka tercemar dan terbongkar keburukannya, walaupun mereka berusaha menutupi aibnya. Disebabkan mereka hanya takut kepada manusia, bukan kepada Allah. Balasan seseorang itu sesuai dengan jenis amalnya. 

Sumber: Kama Tadinu Tudanu
Sebagian ahli tarikh (sejarah) menceritakan: 

Ibnu Hajar rahimahullah dulu adalah seorang hakim besar Mesir di masanya. Beliau jika pergi ke tempat kerjanya berangkat dengan naik kereta yang ditarik oleh kuda-kuda atau keledai-keledai dalam sebuah arak-arakan.

Pada suatu hari beliau dengan keretanya melewati seorang yahudi Mesir. Si yahudi itu adalah seorang penjual minyak. Sebagaimana kebiasaan tukang minyak, si yahudi itu pakaiannya kotor. Melihat arak-arakan itu, si yahudi itu menghadang dan menghentikannya.




Si yahudi itu berkata kepada Ibnu Hajar: “Sesungguhnya Nabi kalian berkata:  (( الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ)) 
"Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir." (HR. Muslim) 

Namun kenapa engkau sebagai seorang beriman menjadi seorang hakim besar di Mesir, dalam arak-arakan yang mewah, dan dalam kenikmatan seperti ini. Sedang aku -yang kafir- dalam penderitaan dan kesengsaran seperti ini.” 

Maka Ibnu Hajar menjawab: “Aku dengan keadaanku yang penuh dengan kemewahan dan kenimatan dunia ini bila dibandingkan dengan kenikmatan surga adalah seperti sebuah penjara. Sedang penderitaan yang kau alami di dunia ini dibandingkan dengan yang adzab neraka itu seperti sebuah surga.” 

Maka si yahudi itupun kemudian langsung mengucapkan syahadat: “Asyhadu anla ilaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammad rasulullah,” tanpa berpikir panjang langsung masuk Islam. 

Subhanallah, sangat menakjubkan hadits Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah ini… 


Bahan Renungan: 
Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini: “Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir.



مَعْنَاهُ أَنَّ كُلّ مُؤْمِن مَسْجُون مَمْنُوع فِي الدُّنْيَا مِنْ الشَّهَوَات الْمُحَرَّمَة وَالْمَكْرُوهَة ، مُكَلَّف بِفِعْلِ الطَّاعَات الشَّاقَّة ، فَإِذَا مَاتَ اِسْتَرَاحَ مِنْ هَذَا ، وَانْقَلَبَ إِلَى مَا أَعَدَّ اللَّه تَعَالَى لَهُ مِنْ النَّعِيم الدَّائِم ، وَالرَّاحَة الْخَالِصَة مِنْ النُّقْصَان . وَأَمَّا الْكَافِر فَإِنَّمَا لَهُ مِنْ ذَلِكَ مَا حَصَّلَ فِي الدُّنْيَا مَعَ قِلَّته وَتَكْدِيره بِالْمُنَغِّصَاتِ ، فَإِذَا مَاتَ صَارَ إِلَى الْعَذَاب الدَّائِم ، وَشَقَاء الْأَبَد . 


“Maknanya bahwa setiap mukmin itu dipenjara dan dilarang di dunia ini dari kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci. Dia dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal dia akan beristirahat dari hal ini. Dan dia akan berbalik kepada apa yang dijanjikan Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih dari cacat. Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang dia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan keusahan dan penderitaan. Dan bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya.” 
(Syarah Shohih Muslim No. 5256) 

Maka sepantasnya seorang mukmin bersabar atas hukum Allah dan ridha dengan yang ditetapkan dan ditaqdirkan oleh Allah. Semoga kita diberi taufik, kemudahan, dan al-afiat untuk menjalani kehidupan dunia ini. (alq)
Pengantar
Ini adalah kisah seorang laki-laki yang tenggelam di dalam dosa-dosa sepanjang hidupnya. Dia baru tersadar ketika malaikat maut mengetuk pintunya dan mengajaknya untuk mengahadap Tuhannya. Dia sangat ketakutan terhadap siksa Allah. Dia sadar bahwa dia tidak akan selamat dari Tuhannya, pada saat dia berdiri di hadapan-Nya. Dosa-dosanya menumpuk dan kebaikan-kebaikannya nihil. Dia ingin berlari dari adzab-Nya. Satu-satunya jalan, menurutnya, adalah dengan membakar jasadnya setelah mati lalu abunya ditebar di laut dan di darat. Sebuah ide aneh yang mengisyaratkan dua perkara yang kontradiktif. Ketakutannya yang besar terhadap adzab Allah, ini termasuk dosa besar. Allah memaklumi kebodohannya dan mengampuninya karena besarnya rasa takut yang dimilikinya.

Teks Hadis
Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Seorang laki-laki yang belum pernah berbuat kebaikan apapun berpesan kepada keluarganya. Jika dia mati, maka hendaknya mereka membakarnya lalu separuh abunya ditebar di daratan dan separuh lagi di lautan. Demi Allah, jika Allah mampu mengembalikannya, niscaya dia akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah ditimpakan kepada siapapun di dunia. Ketika laki-laki itu mati, mereka melakukan apa yang dipesankannya. Lalu Allah memerintahkan daratan agar mengumpulkannya dan memerintahkan lautan agar mengumpulkannya pula. Kemudian Allah bertanya, 'Mengapa kamu melakukan itu?' Dia menjawab, 'Karena takut kepada-Mu ya Rabbi, dan Engkau lebih mengetahuinya.' Maka Allah mengampuninya."

Takhrij Hadis
Riwayat ini dalam Shahih Musim, 4/2111. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudri (no. 2746, 2757). Ada di Syarah Shahih Muslim Nawawi, 17/226.
Diriwayatkan oleh Bukhari di beberapa tempat dalam Shahih-nya. Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah dalam Kitab Ahadisil Anbiya', bab keterangan tentang Bani Israil, 6/494, no. 3452 (6/514 no. 3479). Di dalam Kitabur raqaq, bab takut kepada Allah ( 11/312 no. 6480).
Bukhari meriwayatkannya dari Abu Said Al-Khudri dalam Kitabul Anbiya', 6/514 no. 3478; dalam kitabur Raqaq, bab takut kepada Allah, 11312, no. 6841, dalam Kitabut Tauhid, bab firman Allah, "Mereka hendak mengubah janji Allah." (Al-Fath: 15), 13/466 no. 7508. Dia meriwayatkannya di bab ini dari Abu Hurairah, 13/466, no. 7506.

Riwayat-Riwayat Hadis dalam Shahihain
Dalam sebagian riwayat hadis terdapat keterangan bahwa laki-laki ini memiliki harta dan anak-anak. Dalam Shahih Bukhari, "Bahwa seorang laki-laki sebelum kalian dilimpahi harta dan anak-anaknya." (Shahih Bukhari, 6/514. Shahih Muslim, 4/2112). Dalam riwayat lain,"Allah memberinya harta dan anak-anak." (Shahih Bukhari, 13/466). Dalam riwayat lain dengan lafadz Ataahu sebagai ganti dari A'thaahu. Dalam riwayat Muslim, "Allah memberinya harta dan anak." (Shahih Bukhari, 11/312; Shahih Muslim 4/2111). Dengan lafadz Raasyahu (memberi).

Dalam sebagian riwayat dijelaskan bahwa dia mengucapkan ucapan itu ketika ajal mendatanginya. (Shahih Bukhari, 13/466). Dalam riwayat lain, "Sesungguhnya seorang laki-laki ketika ajal mendatanginya manakala dia berputus asa dari hidup." (Shahih Bukhari, 6/514).

Dalam sebagian riwayat dijelaskan, "Bahwa laki-laki ini berlebih-lebihan pada dirinya sendiri." (Shahih Muslim, 4/110). Atau dia berlebih-lebihan kepada dirinya." (Shahih Muslim, 4/514). Yakni dia berlebih-lebihan dalam dosa dan kemaksiatan. Dalam se bagian riwayat, "Bahwa dia belum melakukan kebaikan apapun." (Shahih Muslim, 6/2109). Atau, "Dia tidak menjalankan kebaikan apapun." (Shahih Bukhari, 13/466).

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa laki-laki ini bertanya kepada anaknya, "Menurut kalian, aku ini bapak yang bagaimana?" Mereka menjawab, "Sebaik-baik bapak."
Nabi bersabda, "Fa in lam yabtair 'indallaahi khairan qattun." (Shahih Bukhari, 13/466, Shahih Muslim, 4/2112).
Qatadah menafsirkannya, "Yakni, belum menyimpan kebaikan apapun di sisi Allah." Dalam riwayat, "Maa Imtaara" (ta' diganti dengan mim). (Shahih Muslim, 4/2112). Dalam riwayat, Lam Yabtahir khairan qattun (hamzah diganti dengan haa'). (Shahih Muslim, 4/2112).

Dan tentang perintah orang itu dalam riwayat yang aku sebutkan agar anak-anaknya membakarnya, kemudian menebarkan setengah abunya di daratan dan setengah lagi di lautan. Dalam sebuah riwayat, "Dia memerintahkan anak-anaknya untuk membakarnya, kemudian menebar debunya." (Shahih Bukhari, 4/2110; Muslim, 4/2110). Dalam riwayat Muslim, "Bahwa dia memerintahkan mereka agar menaburkan abunya bersama dengan angin di laut." (Shahih Muslim, 4/2110). Dalam Shahih Bukhari, "Dia memerintahkan agar menaburkannya di laut pada waktu angin bertiup kencang." (Shahih Bukhari, 6/514). Dalam riwayat Bukhari, "Pada hari dengan angin kencang." (Shahih Bukhari, 11/312). Dalam sebuah riwayat bahwa dia mengancam anak-anaknya jika mereka tidak melaksanakan pesannya, ia akan memberikan harta warisan kepada orang lain, "Kalian harus melakuan perintahku, atau harta warisanku aku berikan kepda orang lain." (Shahih Muslim, 4/2111).

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa dia menjelaskan apa yang harus mereka lakukan kepada dirinya, "Jika aku mati, maka kumpulkanlah kayu bakar yang banyak lalu nyalakan api. Jika api itu telah memakan dagingku dan sampai di tulangku, maka ambillah lalu tumbuklah. Kemudian tebarkanlah di laut pada hari yang panas atau pada hari dengan angin yang kencang." (Shahih Bukhari, 6/514).
Dalam riwayat, "Jika aku mati, maka bakarlah aku. Jika aku telah menjadi arang, maka gilinglah
(alq)
Ada dua orang melakukan pengembaraan.
Suatu hari, mereka memasuki daerah yg didiami oleh sebuah kaum yg menyembah berhala.
Kaum itu memiliki berhala yg disembah dan dikeramatkan. Orang yg melewati daerah mereka, harus memberikan korban sebagai sesembahan untuk berhala itu. Jika tidak mau memberikan korban, maka mereka tidak akan dibiarkan keluar dari daerah itu dalam keadaan hidup.

Dua orang itu pun mengalami hal yg sama. Mereka harus memberikan sesembahan pada berhala. Lelaki pertama sangat takut pada kematian. Karena dia tidak memiliki apa2, akhirnya dia menangkap seekor lalat dan memberikannya kepada berhala itu sebagai sesembahan.

Sedangkan lelaki yg kedua, tetap teguh memegang akidahnya. Dia tidak mau berkorban untuk berhala itu, meskipun dengan seekor lalat. Dia memilih untuk taat pada ajaran agama; berkorban hanya boleh dilakukan jika sesuai dengan syari'at, yaitu kurban Idul Adha yg dilakukan dengan ikhlas karena Allah Ta'ala. Sedangkan memberikan sesembahan pada berhala - meskipun hanya seekor lalat - adalah perbuatan menyekutukan Allah. Itu adalah dosa paling besar. Akhirnya, dia dibunuh. Dia mati syahid mempertahankan akidahnya dan masuk surga.

Adapun lelaki yg satunya, akhirnya meneruskan perjalanan. Namun, naas, baru berjalan beberapa puluh langkah, di tengah padang pasir dia digigit ular berbisa dan akhirnya mati. Namun, dia mati dalam keadaan musyrik (menyekutukan Allah). Dia masuk neraka karena menyekutukan Allah, dengan mempersembahkan seekor lalat pada berhala.

(Dari Imam Thariq bin Syihab)
Nabi Musa ‘alaihis salam memiliki seorang murid yang menemaninya mencari Ilmu. Dia adalah Yusya’ Bin Nun, dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan hikmah kenabian dan mukjizat yang nyata kepadanya. Setelah Nabi Musa ‘alaihis salam wafat, Nabi Yusya’ bin Nun ‘alaihis salam membawa Bani Israil ke luar dari padang pasir. Mereka berjalan hingga menyeberangi sungai Yordania dan akhirnya sampai di kota Jerica.
Kota Jerica adalah sebuah kota yang mempunyai pagar dan pintu gerbang yang kuat. Bangunan-bangunan di dalamnya tinggi-tinggi serta berpenduduk padat. Nabi Yusya’ dan Bani Israil yang bersamanya, mengepung kota tersebut sampai enam bulan lamanya.
Suatu hari, mereka bersepakat untuk menyerbu ke dalam. Diiringi dengan suara terompet dan pekikan takbir, dan dengan satu semangat yang kuat, mereka pun berhasil menghancurkan pagar pembatas kota, kemudian memasukinya. Di situ mereka mengambil harta rampasan dan membunuh dua belas ribu pria dan wanita. Mereka juga memerangi sejumlah raja yang berkuasa. Mereka berhasil mengalahkan sebelas raja dan raja-raja yang berkuasa di Syam. Hari itu hari Jum’at, peperangan belum juga usai, sementara matahari sudah hampir terbenam. Berarti hari Jum’at akan berlalu, dan hari Sabtu akan tiba.
Padahal, menurut syari’at pada saat itu, pada Sabtu dilarang melakukan peperangan. Oleh karena itu Nabi Yusya’ bin Nun berkata: “Wahai matahari, sesungguhnya engkau hanya mengikuti perintah Alloh Subhanahu wa Ta’ala, begitu pula aku. Aku bersujud mengikuti perintahNya. Ya Alloh Subhanahu wa Ta’ala, tahanlah matahari itu untukku agar tidak terbenam dulu!”. Maka AllohSubhanahu wa Ta’ala  menahan matahari agar tidak terbenam sampai dia berhasil menaklukkan negeri ini dan memerintahkan bulan agar tidak menampakkan dirinya.
ilustrasi

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata, bahwa Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya matahari itu tidak pernah tertahan tidak terbenam hanya karena seorang manusia kecuali untuk Yusya’. Yakni pada malam-malam dia berjalan ke Baitul Maqdis (untuk jihad).’” (HR: Ahmad dan sanad-nya sesuai dengan syarat Al-Bukhari).
Akhirnya Nabi Yusya’ dan kaumnya berhasil memerangi dan menguasai kota tersebut. Setelah itu Nabi Yusya’ bin Nun memerintahkan kaumnya untuk mengumpulkan harta rampasan perang untuk dibakar. Namun api tidak mau membakarnya. Lalu Beliau meminta sumpah kepada kaumnya. Dan akhirnya diketahui ternyata ada dari kaumnya yang berkhianat dengan menyembunyikan emas sebesar kepala sapi.
Akhirnya orang-orang yang berkhianat mengembalikan apa yang mereka curi dari harta rampasan perang itu. Kemudian dikumpulkan dengan harta rampasan perang lainnya. Barulah kemudian api mau membakarnya.
Demikian syariat yang dibawa oleh Nabi sebelum Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi Wa Sallam. Yaitu tidak boleh mengambil harta rampasan perang. Dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan Syariat Nya dengan memperbolehkan bagi Rasululloh Shollallahu ‘alaihi Wa Sallam untuk mengambil rampasan perang agar dapat diambil manfaat yang banyak dari harta rampasan perang itu.
Setelah Baitul Maqdis dapat dikuasai oleh Bani Israil, maka mereka hidup di dalamnya dan di antara mereka ada Nabi Yusya’ yang memerintah mereka dengan Kitab Alloh Subhanahu wa Ta’ala, Taurat, sampai akhir hayatnya. Dia kembali ke hadirat Alloh Subhanahu wa Ta’ala saat berumur seratus dua puluh tujuh tahun, dan masa hidupnya setelah wafatnya Nabi Musa  ‘alaihis salamadalah dua puluh tujuh tahun.
(Sumber Rujukan: Al Qur’anul Karim; Riyadhus Shalihin; Syarah Lum’atil I’tiqod)
disadur dari situs www.kisahislam.wordpress.com
Selepas shalat maghrib, turun hujan. Karena tak membawa payung atau jas hujan, lebih baik nunggu adzan Isya' di masjid. Tak sedikit jamaah yang memilih menunggu di masjid ketimbang pulang. Kebanyakan ngobrol, kebetulan ga pada bawa Al-Quran, ane pun begitu.

Ana memilih mengisi waktu dengan browsing pake hape jadul kesayanganku. Tapi karena bersamaku ada anak kecil, jadi nggak khusyuk megang hape. Ya, akhirnya terpaksa ana ladeni kemauannya pinjam hape buat di otak-atik.
foto diambil pas hujan abu tgl 14.02.2014

Anak kecil itu Izul namanya. Kalo ditanya, "Abinya namanya siapa?" Dia bakal lantang menjawab :"Abi ncot". Hehe.. biasalah anak kecil belum jelas berucap. Ana kenal akrab sama abinya, sehari-hari biasa menyapa beliau dengan panggilan 'Pak Shod'.

Anak ini suka sama nasyid, pertama kali pinjem hapeku dia minta diputerin lagu Sepohon Kayu. Nggak hanya nasyid Indonesia, dia juga sama nasyid Arab (walau gak mudeng artinya). Salah satunya nasyid dengan judul : Innahasy Syahaadah

Iya, saya juga suka nasyid ini. Sangat populer di tempatku dulu belajar, saat masih berseragam putih abu-abu. Berikut ini lirik dari nasyid tersebut:



إنها الشهـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــادة

إنها الشهادة ... ليلقى مراده
فاشهدي يا سماء بنفض الرمال
فهنا خندق الجند أبطال النزال
يا شمس النجائب لا تغربي عنا ... فنحن الكتائب

فنادى داعي الجهاد أقبل يا مجاهد
فسل سيف المنون ألوفاً يجاهد
يا شمس النجائب لا تغربي عنا ... فنحن الكتائب

فانطلق على الخيل و شد اللجاما
و ينبري للرجال و يفرغ الهاما
يا شمس النجائب لا تغربي عنا ... فنحن الكتائب

فسار لها البطل فسالت دماهُ
فخطت على الرمال حروفاً يداهُ
يا شمس النجائب لاَ تَغْرُبِي عنا ... فنحن الكتائب

يا نفس إن تقتلي فحور حسان
حبذا يا أخوتي إنها الجنان

يا شمس النجائب لا تغربي عنا ... فنحن الكتائب

Bagi saya, nasyid ini punya makna yang dalam. Kalau mendengarnya, langsung teringat dengan kisah Yusya' bin Nun yang pernah saya baca dulu. Ya, salah satu Nabi Allah yang diutus kepada Bani Israil. Nabi yang pernah berdoa agar matahari tertahan untuk terbenam. Bagi yang ingin file nasyid tersebut, berikut ana beri link downloadnya : download Nasyid Innahasy Syahadah (alq)

Sudah lumrah, kalender tahunan dihiasi dengan gambar-gambar indah. Bisa gambar gedung, pantai, gunung-gunung, tempat bersejarah, juga masjid. Dulu pernah lihat kalender dengan gambar-gambar masjid, salah satunya gambar masjid berikut :




Di pojok kanan bawah, ada tulisan kecil "Masjid Al Aqsha, Palestina". Dalam hati bilang, "Beneran ini masjid Al Aqsha?". Ternyata BUKAN! Dulu sebelum ane tahu, sempet ngira ini masjid Al-Aqsha. Tapi setelah lihat slideshow tentang ini (lupa dapet filenya darimana), ane tahu kalo ini Dome of Rock  ato lebih dikenal 
Masjid Kubah Shakhrah yang secara harfiyah artinya "Kubah Batu".

Menurut mbah wikipedia, kubah shakhrah bukan sebuah masjid, melainkan sebuah komplek yang terdapat batu besar dimana tempat Rasulullah berdiri ketika peristiwa Isra' Mi'raj. Ya, walaupun letaknya tak jauh dari Masjidil Aqsha, namun tidaklah benar kalau bangunan berkubah kuning tersebut dikatakan "Masjid Al-Aqsho". Lha terus? Masjid Al-Aqsha itu yang mana? Berikut gambarnya:







Masjid ini disebut oleh Rasulullah SAW dalam Hadits sebagai Masjid Biru karena mempunyai Kubah berwarna biru.

Di Masjid inilah Nabi Muhammad SAW singgah ketika melaksanakan Isra Mi’raj dan Nabi SAW mengimami shalat berjamaah bersama 25 Rasul dan lebih dari 160.000 Nabi.

Letak koordinat geografisnya : 31°46′35″LU 35°14′8″BT

Berikut letak antar masjid Al-Aqsha dan Kubah Shakhrah :





----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kok bisa ya, masjid Kubah Shakhrah dikatakan Masjid Al-Aqsha?

Bisa jadi ini pembodohan umat oleh kaum Yahudi, dalam sebuah blog yang mengambil sumber dari The Guardian Inggris menuliskan: 

Tujuan utama media Yahudi (dengan eksploitasi berita di CNN) menyamarkan Masjid Sakhra sebagai Masjid Aqsa adalah agar Yahudi bisa menghancurkan Al Aqsa dan membangun “Solomon Temple” (Kuil Sulaiman) pada bekas reruntuhan Al Aqsa.
Umat Yahudi meyakini dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat) bahwa akan datang diakhir zaman seorang yang mereka anggap sebagai dewa penolong Yahudi yang dinamakan “Messiah” (Al Masih, dalam bahasa Arab) apabila mereka mengadakan ritual agama di Solomon Temple dengan mempersembahkan sapi betina berwarna merah (Al Baqarah) ~The Guardian Magazine~
Jadi? Intinya kita sebagai seorang muslim jangan sampai salah nge-share tentang masjidil Aqsha. Dan juga orang-orang yang masih belum tahu tentang hal ini, hendaknya dijelaskan agar nggak salah persepsi. (alq)